K A N G E N

Suatu Malam setelah shalat wajib dan sunnahku,,, ditengah-tengah muhasabahku terbesit sebuah memory,,,,,yah memory bersama sahabat-sahabat yang sering kuanggap sebagai mujahidah-mujahidah. Teringat masa senang-senangnya, semangat-semangatnya dalam jalani amanah kegiatan dakwah kampus.
Walau tak ku elakan pernah dihampiri perselisihan dan kelitihan, namun lebih banyak dihampiri oleh canda dan tawa. KU DAPATI SEORANG SAHABAT YANG MERINDUKAN KEBAHAGIAN AKHIRAT.

Semangat yang tak kudapatkan sekarang ketika tak bersama mereka adalah semangat berlomba-lomba dalam kebaikan,,, kurindu kata-kata motivasi mereka,,kurindu surat cinta mereka,,,surat cinta yang didalamnya adalah ungkapan-ungkapan rasa sayang seorang sahabat agar sahabatnya menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.

PENAT dengan seriusnya kesibukkan untuk menggapai keinginan dan mimpi, dan ku pun tahu bahwa mereka pun merasakan demikian,,, PENAT dan LELAH harus dilawan karena masa sekarang ini adalah masa dimana lembaran sebuah buku harus tercatat bahwa aku dan mereka saatnyalah tuk serius meraih keinginan atau meraih mimpi kami masing-masing.

MIMPI untuk menyenangi orang tua, MIMPI mempunyai karir yang baik, MIMPI mempunyai keluarga (suami dan anak-anak), dan mimpi-mimpi yang lainnya….

Hmmmm tentunya aku dan mereka pun sama-sama harus fokus tuk meraihnya.

KU BERDOA PADA ALLAH agar aku dan mujahidah-mujahidahku dapat meraih mimpi dengan cara KETAKWAAN pada Allah,, tetap ISTIQOMAH walau jarang kita besua,,tetap SEMANGAT walau banyak tuntutan dan beban yang harus dilewati dalam bekerja.

Ibarat sebuah buku terdapat sebuah Lembaran yang pernah tercatat bersama mereka dan lembaran itu akan sering ku baca,,, AGAR KU INGAT SELALU BAHWA KU PUNYA SAHABAT-SAHABAT YANG MERINDUKAN AKHIRAT.

Mujahidah-mujahidahku,,, aku KANGEN kalian

Riks_Luv_Allah

Advertisements

BERTANYA ITU WAJAR “@#$#$*&&&^&$#@ ???”

Posted On April 16, 2010

Filed under +Motivasi_Riks+

Comments Dropped 4 responses


“Kenapa saya dilahirkan dikeluarga ini yah, kenapa tidak jadi anak seorang pejabat, yah Allah???”

“Bagaimana kok bisa yah Allah saya menjadi pegawai swasta, padahal saya ingin sekali jadi pegawai negri?????”

“Kenapa hidung dan bentuk wajah saya tidak proporsional yah Allah,,tidak seperti artis-artis di TV??????”

“Kenapa saya belum juga menikah, padahal umur sudah mencukupi?????”

“Kenapa cobaan ini harus terjadi pada diri saya????”

  • Dan banyak pertanyaan lainnya yang sering kita pertanyakan kepada Sang khaliq, entah tujuannya untuk mengeluh atau untuk mendapatkan jawaban hikmah dibalik pertanyaan tersebut.

    Pertanyaan diatas wajar dipertanyakan namun jika hal tersebut memacu kita untuk mengambil hikmah nantinya dan itu akan menjadi sebuah kebaikan untuk kehidupan kita,
    akan tetapi menjadi sia-sia jika pertanyaan tersebut hanya sebagai keluh kesah karena tidak bersyukurnya kita dengan apa yang sudah diberikan.

    Merenunglah dengan sebuah pertanyaan untukNya , lalu jadikan motivasi diri bahwa ALLAH TAHU YANG TERBAIK UNTUK KITA !

    “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”
    (Al-baqarah : 216)

    Rika kasih kutipan yahh, cukup menginspirasi untuk lebih pandai mensyukuri apapun yang sudah ada pada diri kita ….

    “Ketika kehidupan memberimu seribu alasan untuk ingini sesuatu pahamilah bahwa Allah tahu sejuta kebutuhanmu, awali hari dengan rasa syukur, nikmati tiap detik waktu yang berdetak dengan istiqomah dan siapkan diri untuk jadi indah”

    Perbanyak bersyukur yuuuukszz.

  • Keinginan manusia tak kan pernah ada habisnya, tak kan pernah puas dengan apa yang ada, padahal Allah sudah menakar kebutuhan kita,,,,
  • BERTANYA ITU WAJAR….. ada pepatah mengatakan MALU BERTANYA SESAT DIJALAN

    Jadi banyak bertanyalah pada Allah !

    Waulahualam bissawab
    Riks_Luv_Allah

    Untaian doa kecil :

    ””Aku tidak punya kekuatan apapun Allah,,,ketika Kau berkehendak sesuatu yang tidak aku inginkan datang menghampiriku saat ini,,,namun aku tahu bahwa yang terburuk bagiku belum tentu dimataMu Allah,,,ya Rabb bantu aku menjadi pribadi yang ikhlas dengan apa yang telah Kau gerakkan terjadi pada diriku,,,yakinkan padaku bahwa ini adalah bentuk rasa SAYANG MU kepadaku””

    MARET 2010

    Bismillah..perubahan dalam hidup hamba Allah yang memberanikan diri untuk melakukan perubahan.

    Maret 2010 ini mencoba memberanikan diri untuk melakukan perubahan demi mencapai kesuksesan dunia dan akhirat AMIN, yakinkan diri bahwa Allah akan selalu membantu setiap hambaNya yang berdoa dan berusaha..

    Maret 2010..perubahan pada usia maka seharusnya pula,, punya azam pada diri untuk melakukan perubahan pada pola fikir, perubahan pada kebiasaan, dan perubahan aktifitas sehari-hari..berhasil atau tidaknya tergantung bagaimana proses perubahan itu dijalankan.

    Jujur teman saatnyalah kuambil keputusan untuk berwirausaha belajar menjadi enterpreneur..klo bukan sekarang kapan lagi kaki ini berani melangkah…

    Harus benar-benar memanage diri..mulai dari waktu sampai dengan rencana apa berikutnya yang harus dikerjakan.. TANTANGAN???!!! Yah bisa dibilang inilah salah satu tantangan dalam hidup.

    Banyak yang bilang masih terlalu kini mengambil keputusan resign dari kantor..yang bisa dikatakan posisi aman disana, namun tidak menjadi penghalang dalam mengambil keputusan untuk resign walau ada sedikit keraguan dihati..hmmm yakinkah? tapi inilah jawaban istikhorohku…

    Pemikiranku adalah ga mau jadi pegawai selamanya…ga mo berdiam diri berkutat dengan 1tempat 1ruangan 1meja 1jalur perjalanan yang harus kutempuh setiap harinya dan 1penghasilan yang kudapatkan…GAJI BULANAN.

    Nabi SAW bersabda: “Berniagalah, karena sembilan dari sepuluh pintu rezeki itu ada dalam perniagaan” (HR. Ahmad)

    Bismillah…Allahu rabbi bantu hamba dalam menjalani proses kehidupan ini semoga Engkau ridho atas segala keputusan yang kuambil ini, karena semua yang telah kuputuskan ini adalah keputusan yang telah kuambil dari jawaban istikhorohku kepadaMu…

    aku telah mengundangMu dalam setiap shalatku,sujudku,doaku juga setiap kakiku ini melangkah

    Rabb…ampuni aku dalam setiap khilafku…AMIN ALLAHUMA AMIN

    Riks_Luv_Allah

    1431 H … 2010

    Posted On January 7, 2010

    Filed under +Motivasi_Riks+, +Perjalanan_Riks+

    Comments Dropped 2 responses


    Hmmm alhamdulillah masih dikasih Allah kesempatan menghirup udara lagi didunia, nah….ini artinya diri kita masih diberi kesempatan untuk terus memperbaiki diri. Begitu juga dengan tahun baru ini, kita semua yang masih merasakan udara yang ada didunia tandanya masih ada ksempatan menjadi hambaNya yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

    Harus punya motivasi diri untuk perbaikan dalam diri kita, mulai dari bad habit yang ampuuuuun kayaknya susah bgt tuh dirubah sampai dengan targetan atau keinginan kita yang tahun kemarin kok meleset yahhhh 😛

    Beneran yah ternyata waktu beneran cepet berlalu ga kerasa umur dah makinnnnnnnnn muda, Uppz! tua maksudnya, hmm ga jadi deh jangan tua tp terus bertambah, ahhhhhh ga mau dibilang tuaaaaaaa. lohhh! 😉

    Allah izinkan diri ini mampu menggapai mimpi menjadi hamba yang SUKSES DUNIA dan AKHIRAT AMIN.

    Bismillah rika ada beberapa tips yang sangat mujarab setelah flasback dari tahun ke tahun dan harus kita realisasiin, tips on reaching dreams come true…berikut tipsnyaaaaaa

    PRAY, tingkatkan ibadah jangan malezzz ibadah sama Allah, ingat Allah memiliki segala yang ada didunia ini, kita ajah klo mau minta sesuatu sama manusia ada caranya begitu juga dengan Allah.

    THE POWER OF MIND, yakinlah bahwa Allah akan mengabulkan setiap hambaNya yang berdoa padaNya.

    OPTIMIS, klo ada keinginan tp kok pesimis hmmm g bangetlahhh, ga banget berhasil maksudnya

    CONFIDENT, percaya sama diri jangan minder…klo kita ajah ga percaya sama diri sendiri gimana orang lain yahhhhh 🙂

    NOTE, buat plan dan harus dicatat apa saja yang mau kita capai..supaya termotivasi mewujudkannya

    SMILE, senyum teruuuuuus 🙂 selain bikin awet muda juga buat memancing aura positif keluar dari dalam diri, ga percaya coba dehh, oh iya ada lagi..dengan senyum orang-orang yang ada disekeliling kita juga seneng lihat kita

    Tips diatas memang harus dicoba minimal learning by doing..yuuk sama-sama kita coba 🙂

    Moga mimpi bisa menjadi NYATA di tahun ini AMIN

    Riks_Luv_Allah

    Yang Tidak Sempurna Menjadi Sempurna

    Posted On December 14, 2009

    Filed under +Opini_Riks+

    Comments Dropped leave a response

    Mencintai Yg Tdk Sempurna Dgn Cara Yg Sempurna
    Oleh : unknown

    Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai, Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat, Itulah kesempatan.
    Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik, Itu bukan pilihan, itu kesempatan. Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan, Itupun adaah kesempatan. Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya, Itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan.
    Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi, Itu adalah pilihan. Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain Yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu Dan tetap memilih untuk mencintainya, Itulah pilihan.

    Perasaan cinta, simpatik, tertarik, Datang bagai kesempatan pada kita. Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan. Pilihan yang kita lakukan.

    Berbicara tentang pasangan jiwa, Adasuatu kutipan dari film yang Mungkin sangat tepat : “Nasib membawa kita bersama, tetapi tetap bergantung pada kita bagaimana membuat semuanya berhasil” Pasangan jiwa bisa benar-benar ada. Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang Yang diciptakan hanya untukmu. Tetapi tetap berpulang padamu Untuk melakukan pilihan apakah engkau ingin Melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, atau tidak… Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita, Tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita, Adalah pilihan yang harus kita lakukan. Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna.

    My Opinion :
    Dapat simpulkan dari tulisan ini bahwa Kesempatan adalah yang didatangkan oleh Allah, namun sebuah pilihan adalah yang diputuskan oleh diri kita sendiri..

    Banyak yang bilang Kesempatan tidak akan datang dua kali, hmmmm…oke juga sihh, tp kesempatan akan datang berkali-kali jika Allah SWT menghendakinya.

    Pilihan kita sebagai manusia yang punya sifat khilaf ini, memang terkadang memutuskan sebuah pilihan bisa tepat/terbaik untuk kita namun kadang bisa sebaliknya dan itu semua tergantung kedekatan kita kepada Allah, tergantung apakah pada saat memutuskan pilihan tersebut dengan campur tangan Allah…

    Lagi-lagi itu semua tergantung kita yang menjalankan kehidupan ini…sesempurna apapun langkah kita jika kita tidak mendapatkan izinNya..yakin deh bahwa kita TIDAK AKAN PERNAH MENDAPAT KESEMPATAN ITU DATANG.
    so..jalani hidup ini dengan meminta ridho Sang KUASA, TERIMA jika ada KESEMPATAN untuk dicintai dan mencintai, namun TAWAKAL bila dalam mengambil suatu PILIHAN…

    waullahualam bissawab

    Riks_Luv_Allah

    Bangga Menjadi …?

    Posted On November 24, 2009

    Filed under +Opini_Riks+

    Comments Dropped leave a response

    Penulis: Ummu Ayyub
    Muroja’ah: Ust Abu Ahmad

    Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?

    Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita `menunjukkan eksistensi diri’ di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.

    Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama “Sekarang kerja dimana?” rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk “Saya adalah ibu rumah tangga”. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu “sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan “nasehat” dari bapak tercintanya: “Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak.” Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.

    Ibu Sebagai Seorang Pendidik

    Syaikh Muhammad bin Shalih al `Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

    “Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. ” (QS. Al-Ahzab: 33)

    Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.

    Sebuah Tanggung Jawab

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

    “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan- Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. ” (QS. At Tahrim: 6)

    Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: “Peliharalah dirimu dan keluargamu!” di atas menggunakan Fi’il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.

    Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu `anhu berkata, “Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)

    Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.

    Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu.” (QS. At Tahrim: 6)

    Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.

    Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:

    “dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.” (QS asy Syu’ara’: 214)

    Abdullah bin Umar radhiyallahu `anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu `alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. ” (HR. Bukhari 2/91)

    Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.

    Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih

    Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, “Mau untuk apa nak, tabungannya? ” Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab “Mau buat beli CD murotal, Mi!” padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab “Mau buat beli PS!” Atau ketika ditanya tentang cita-cita, “Adek pengen jadi ulama!” Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi “pengen jadi Superman!”

    Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-?

    Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya.

    Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!

    Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.

    Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?

    Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?

    Lalu…

    Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata `cuma’? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu?

    Wallahu a’lam

    My Opinion :
    *Subahanallah yang bisa kuucapkan untuk tulisan ini..terenyuh dlm diri karena teringat firman Allah di surat Adz Dzaariyaat:56 “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
    Menjadi seorang ibu yg ikhlas krn ALLAH adalah sebuah ibadah yg besar pahalanya..semoga kita semua yang membaca tulisan ini termotivasi untuk menjadi ibu yang KREATIF yang disayangi suami dan juga anak2nya karena KEIMANANnya…Amin Allahuma AMIN

    Wallahualam Bissawab

    Riks_Luv_Allah

    Next Page »